ASUHAN KEPERAWATAN PRE EKLAMSI


KONSEP MEDIS

1.1         DEFINISI

Eklampsi adalah penyakit akut dengan kejang dan coma pada wanita hamil dan dalam nifas dengan hipertensi, oedema dan proteinuria (Obtetri Patologi,R. Sulaeman Sastrowinata, 1981 ).
Preklamsia adalah tingginya tekanan darah dan kelebihan kadar protein dalam urin setelah kehamilan berusia 20 minggu.
Seringkali preklamsia ini hanya merupakan peningkatan tekanan darah. Tetapi bila tidak dijaga kemungkinan dapat berakibat fatal, kemungkinan komplikasi pada ibu dan bayinya.
Pre-eklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan protein uria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ( Rustam Muctar, 1998 ).

1.2         ETIOLOGI

Preklamsia dahulu disebut sebagai toksemia, karena diperkirakan adanya racun dalam aliran darah pada ibu hamil. Walaupun teori ini sudah dibantah, tetapi penyebab preklamsia sesungguhnya belum diketahui. Yang mungkin menyebabkan antara lain:
Ø      Kelainan aliran darah menuju rahim
Ø      Kerusakan pembuluh darah
Ø      Masalah dengan sistim ketahanan tubuh
Ø      Diet atau konsumsi makanan yang salah

1.3         TANDA DAN GEJALA Pre-eklampsia dan Eklampsia

1). Kenikan tekanan darah
2). Pengeluaran protein dalam urine
3). Edema kaki
4). Terjadinya gejala subyektif :
- sakit kepala
- penglihatan kabur
- nyeri pada epigastrium
- sesak napas
- berkurangnya urine
5). Menurunnya kesadaran wanita hamil sampai koma
6). Terjadi koma.


1.4         KLASIFIKASI

Pre-eklampsia digolongkan ke dalam pre-eklampsia ringan dan pre-eklampsia berat dengan gejala dan tanda sebagai berikut:

Pre-eklampsia Ringan
1). Tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam.
2). Tekanan darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam.
3). Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu.
4). Proteinuria 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif plus 1 sampai 2 pada urin kateter atau urine aliran pertengahan.

Pre-eklampsia Berat
Bila salah satu diantara gejala atau tanda ditemukan pada ibu hamil sudah dapat digolongkan pre-eklampsia berat:
1). Tekan darahn160/110mmHg.
2). Oligouria, urin < 400cc/24 jam.
3). Proteinuria > 3 gr/liter.
4). Keluhan subjektif:
- nyeri epigastrium
- gangguan penglihatan
- nyeri kepala
- edema paru dan sianosis
- gangguan kesadaran.
5). Pemeriksaan:
- kadar enzim hati meningkat disertai ikterus
- perdarahan pada retina
- trombosit < 100.000/mm
Peningkatan gejala dan tanda pre-eklampsia berat memberikan petunjuk akan terjadi eklampsia, yang mempunyai prognosa buruk dengan angka kematian maternal dan janin tinggi.

Eklampsia berdasarkan waktu terjadinya dapat dibagi:
a.       Eklampsia gravidarum.
·  Kejadian 50% sampai 60%
·  Serangan terjadi dalam keadaan hamil
b.      Eklampsia parturientum.
·  Kejadian sekitar 30% sampai 35%
·  Saat sedang inpartu
·  Batas dengan eklampsia gravidarum sukar ditentukan terutama saat mulai inpartu.
c.       Eklampsia puerperium.
·  Kejadian jarang, 10%
·  Terjadi serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir.
Kejang – kejang pada eklampsia terdiri dari 4 tingkat:
1.      Tingkat awal atau aura.
·  Berlagsung 30 sampai 35 detik
·  Tangan dan kelopak mata gemetar
·  Mata terbuka dengan pandangan kosong
·  Kepala diputar ke kanan atau ke kiri
2.      Tingkat kejang tonik.
·  Berlangsung sekitar 30 detik
·  Seluruh tubuh kaku: wajah kaku; pernapasan berhenti dapat diikuti sianosis; tangan menggenggam, kaki diputar ke dalam; lidah dapat tergigit.
3.      Tingkat kejang klonik
·  Berlangsung 1 sampai 2 menit
·  Kejang tonik berubah menjadi kejang klonik
·  Kontraksi otot berlangsung cepat
·  Mulut terbuka-tertutup dan lidah dapat tergigit sampai putus
·  Mata melotot
·  Mulut berbuih
·  Muka terjadi kongesti dan tampak sianosis
·  Penderita dapat jatuh, menimbulkan truauma tambahan.
4.      Tingkat kejang koma.
·  Setelah kejang klonik berheti penderita menarik napas
·  Diikuti koma yang lamanya bervariasi.

1.5         PATOFISIOLOGI

Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199).
Pada pre-eklampsia dan eklampsia, terjadi penurunan angiotensin, rennin, dan aldosteron, tetapi dijumpai edema, hipertensi, dan proteinuria. Berdasarkan teori iskemia  implantasi plasenta, bahan trofoblas akan diserap ke dalam sirkulasi, yang dapat meningkatkan sensitivitas terhadap angiotensin II, rennin, dan aldosteron, spasme pembuluh darah arteriol dan tertahannya garam dan air. (Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. 1998)




1.7         KOMPLIKASI

Beberapa komplikasi preklamsia antara lain:
Ø      Berkurangnya aliran darah menuju plasenta.
Preklamsia akan mempengaruhi pembuluh arteri yang membawa darah menuju plasenta. Jika plasenta tidak mendapat cukup darah, maka janin akan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi. Hal ini dapat berakibat pertubuhan janin melambat atau kelahiran dengan berat bayi kurang
Ø      Lepasnya plasenta.
Preklamsia dapat meningkatkan resiko lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum lahir. Selanjutnya dapat menyebabkan pendarahan dan kemungkinan dapat mengancam bayi maupun ibunya.
Ø      Sindrom HELLP.
HELLP adalah singkatan dari Hemolyssi (perusakan sel darah merah), Elevated liver enzym dan low platelet count (meningkatnya kadar enzim dalam hati dan rendahnya jumlah sel darah dalam keseluruhan darah. Gejalanya antara lain pening dan muntah, sakit kepala dan nyeri perut atas.
Ø      Eklampsia.
Jika preklamsia tidak terkontrol maka terjadi eklamsia. Eklamsia ini dapat berujung pada kerusakan permanen organ tubuh ibu seperti otak, hati atau ginjal. Jika eklamsia tidak terkontrol dapat menyebabkan koma, kerusakan otak bahkan berujung pada kematian janin ataupun ibunya.

1.8         PEMERIKSAAN PENUNJANG

·  Tes diagnostik dasar
Pengukuran tekanan darah, analisis protein dalam urin, pemeriksaan edema, pengukuran tinggi fundus uteri, pemeriksaan funduskopik.
·  Tes laboratorium dasar
Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi). Pemeriksaan sel darah juga dilakukan, untuk mengetahui adanya kemungkinan sel yang menghambat aliran darah.
·  Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin, protein serum, aspartat aminotransferase, dan sebagainya).
·  Pemeriksaan fungsi ginjal (ureumdankreatinin). Uji untuk meramalkan hipertensi Roll Over test Pemberian infus angiotensin II.
·  Juga dilakukan beberapa tes, termasuk diantaranya: fungsi pembekuan darah, pemeriksaan dengan USG untuk melihat pertumbuhan janin, dan pemindaian dengan alat Doppler untuk mengukur efisiensi aliran darah ke plasenta. Dan dianjurkan untuk melakukan tes stres janin untuk mengetahui janin tetap memperoleh pasokan oksigen dan makanan yang cukup dengan mengukur pergerakan bayi dan denyut jantung bayi.

1.9         PENCEGAHAN

Pre-eklampsia dan eklampsia merupakan komplikasi yang berkelanjutan dengan penyebab yang sama. Oleh karena itu, pencegahan atau diagnosis dini dapat mengurangi kejadian dan menurunkan angka kesakitan dan kematian.
Untuk dapat menegakkan diagnosis dini diperlukan pengawasan hamil yang teratur dengan memperhatikan kenaikan berat badan, kanaikan takanan darah, dan pemeriksaan urin untuk menentukan proteinuria.
Untuk mencegah kejadian pre-eklampsia ringan dapat dilakukan nasehat tentang dan berkaitan dengan:
1). Diet-makanan.
Makanan tinggi protein, tinggi karbihidrat, cukup vitamin, dan rendah lemak. Kurangi garam apabila berat badan bertambah atau edema. Makanan berorientasi pad empat sehat lima sempurna. Untuk meningkatkan jumlah protein dengan tambahan satu butir telur setiap hari.
2). Cukup Istirahat.
Istirahat yang cukup pada hamil semakin tua dalam arti bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan kemampuan. Lebih banyak duduk atau berbaring ke arah punggung janin sehingga aliran darah menuju plasenta tidak mengalami gangguan.
3). Pengawasan antenatal (hamil).
Bila terjadi perubahan perasaan dan gerak janin dalam rahim segera datang ke tempat pemeriksaan. Keadaan yang memerlukan perhatian:
a.       Uji kemungkinan pre-eklampsia:
·  Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikannya
·  Pemeriksaan tinggi fundus uteri
·  Pemeriksaan kenaikan berat badan atau edema
·  Pemeriksaan protein dalam urin
·  Kalau mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, gambaran darah umum, dan pemeriksaan retina mata.
b.      Penilaian kondisi janin dalam rahim:
·  Pemantauan tinggi fundus uteri
·  Pemeriksaan janin: gerakan janin dalam rahim, denyut jantung janin, pemantauan air ketuban
·  Usulkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi.

1.10     PENATALAKSANAAN

Satu-satunya obat yang manjur adalah dengan mempercepat persalinan, tapi pada preeklamsi di awal kehamilan, yang bisa dilakukan adalah:
·  Bedrest
Mengulur waktu kelahiran bayi dengan istirahat total agar tekanan darah turun dan meningkatkan aliran darah menuju plasenta, agar bayi dapat bertahan. Anda diharuskan berbaring total dan hanya diperbolehkan duduk atau berdiri jika memang benar-benar diperlukan. Tekanan darah dan kadar protein urin akan dimonitor secara ketat. Jika preeklamsia sudah parah, kemungkinan Anda diminta beristirahat di rumah sakit sambil melakukan test stres janin untuk memonitor perkembangan janin.
·  Obat hipertensi.
Dokter dapat merekomendasikan pemakaian obat penurun tekanan darah. Pada preklamsia parah dan sindroma HELLP, obat costicosteroid dapat memperbaiki fungsi hati dan sel darah. Obat ini juga dapat membantu paru-paru bayi tumbuh bila harus terjadi kelahiran prematur.
Ø      Inhibitor Angiotensin Converting Enzyme (ACE)
Ø      Agonis Alfa II Sentral : Metildopa
Ø      Agens Penyekat Alfa dan Beta Adrenergik :labelatol,Metroprolol, dan atenolol
Ø      Dilator Arteriol; Hidralazin
Ø      Nifedipin (Adalat) : penyekat kalsium
Ø      Dilator Arteri dan Vena ; Natrium Nitroprusida
·  Melahirkan.
Ini adalah cara terakhir mengatasi preeklamsia. Pada preklamsia akut/parah, dokter akan menganjurkan kelahiran prematur untuk mencegah yang terburuk. Kelahiran ini juga diperlukan kondisi minimal, seperti kesiapan tubuh ibu dan kondisi janin.















BAB II
KONSEP PENGKAJIAN


2.1 PENGKAJIAN
Data yang dikaji pada ibu dengan pre eklampsia adalah :
  1. Data subyektif :
-          Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun
-          Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur
-          Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial, hipertensi kronik, DM
-          Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklamsia atau eklamsia sebelumnya
-          Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan
-          Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya
-           
  1. Data Obyektif :
-          Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam
-          Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema
-          Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress
-          Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM ( jika refleks + )
-          Pemeriksaan penunjang ;
· Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2 kali dengan interval 6 jam
· Laboratorium : protein uri dengan kateter atau midstream ( biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ), kadar hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini meningkat, uric acid biasanya > 7 mg/100 ml
· Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu
· Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada otak
· USG ; untuk mengetahui keadaan janin
· NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin

2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.       Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan penurunan fungsi organ ( vasospasme  dan peningkatan tekanan darah )
b.      Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan perubahan pada plasenta
c.       Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan pembukaan jalan lahir
d.      Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak efektif terhadap proses persalinan.
e.        Resiko tinggi terjadinya cedera b/d kejang-kejang berulang.
f.        Resiko tinggi terjadi Asidosis respirasi b/d Kejang – kejang berulang.
g.       Resiko tinggi terjadi oliguri sampai anuri b/d hipovolaemi karena oedema meningkat.

2.3 INTERVENSI DAN RASIONAL
Diagnosa keperawatan I :
Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan penurunan fungsi organ (vasospasme dan peningkatan tekanan darah).
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi kejang pada ibu

Kriteria Hasil :
-          Kesadaran : compos mentis, GCS : 15 ( 4-5-6 )
-          Tanda-tanda vital :
Tekanan Darah      : 100-120/70-80 mmHg           Suhu    : 36-37 C
Nadi                      : 60-80 x/mnt                           RR       : 16-20 x/mnt
Intervensi :
  1. Kaji adanya tanda-tanda eklampsia ( hiperaktif, reflek patella dalam, penurunan nadi,dan respirasi, nyeri epigastrium dan oliguria )
R/. Gejala tersebut merupakan manifestasi dari perubahan pada  otak, ginjal, jantung dan paru yang mendahului status kejang
  1. Catat tingkat kesadaran pasien
R/. Penurunan kesadaran sebagai indikasi penurunan aliran darah otak
  1. Monitor tekanan darah tiap 4 jam
R/. Tekanan diastole > 110 mmHg dan sistole 160 atau lebih merupkan indikasi dari PIH
  1. Monitor adanya tanda-tanda dan gejala persalinan atau adanya kontraksi uterus
R/. Kejang akan meningkatkan kepekaan uterus yang akan memungkinkan terjadinya persalinan
  1. Berikan posisi aman kepada pasien.
R/. Untuk mengurangi resiko cidera
  1. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian anti hipertensi dan SM
R/. Anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah dan SM untuk mencegah terjadinya kejang
Diagnosa keperawatan II :
Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan perubahan pada plasenta
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi foetal distress pada janin
Kriteria Hasil :
-          DJJ ( + ) : 12-12-12
-          Hasil NST :
-          Hasil USG ;
Intervensi :
  1. Kaji tentang pertumbuhan janin
R/. Penurunan fungsi plasenta mungkin diakibatkan karena hipertensi sehingga timbul IUGR
  1. Kaji respon janin pada ibu yang diberi SM
R/. Reaksi terapi dapat menurunkan pernafasan janin dan fungsi jantung serta aktifitas janin
  1. Monitor DJJ sesuai indikasi
R/. Peningkatan DJJ sebagai indikasi terjadinya hipoksia, prematur dan solusio plasenta
  1. Jelaskan adanya tanda-tanda solutio plasenta ( nyeri perut,  perdarahan, rahim tegang, aktifitas janin turun )
R/. Ibu dapat mengetahui tanda dan gejala solutio plasenta dan tahu akibat hipoxia bagi janin
  1. Kolaborasi dengan medis dalam pemeriksaan USG dan NST
R/. USG dan NST untuk mengetahui keadaan/kesejahteraan janin

Diagnosa keperawatan III :
Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan pembukaan jalan lahir
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan perawatan ibu mengerti penyebab nyeri dan dapat mengantisipasi rasa nyerinya
Kriteria Hasil :
-          Ibu mengerti penyebab nyerinya
-          Ibu mampu beradaptasi terhadap nyerinya

Intervensi :
1. Kaji tingkat intensitas nyeri pasien
R/. Ambang nyeri setiap orang berbeda ,dengan demikian akan dapat menentukan tindakan perawatan yang sesuai dengan respon pasien terhadap nyerinya
2. Jelaskan penyebab nyerinya
R/. Ibu dapat memahami penyebab nyerinya sehingga bisa kooperatif
3. Ajarkan ibu mengantisipasi nyeri dengan nafas dalam bila HIS timbul
R/. Dengan nafas dalam otot-otot dapat berelaksasi , terjadi vasodilatasi pembuluh darah, expansi paru optimal sehingga kebutuhan 02 pada jaringan terpenuhi
4. Bantu ibu dengan mengusap/massage pada bagian yang nyeri
R/. untuk mengalihkan perhatian pasien

Diagnosa keperawatan IV :
Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak efektif terhadap proses persalinan
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan perawatan kecemasan ibu berkurang atau hilang
Kriteria Hasil :
-          Ibu tampak tenang
-          Ibu kooperatif terhadap tindakan perawatan
-          Ibu dapat menerima kondisi yang dialami sekarang
Intervensi :
1. Kaji tingkat kecemasan ibu
R/. Tingkat kecemasan ringan dan sedang bisa ditoleransi dengan pemberian pengertian sedangkan yang berat diperlukan tindakan medikamentosa
2.      Jelaskan mekanisme proses persalinan
R/. Pengetahuan terhadap proses persalinan diharapkan dapat mengurangi emosional ibu yang maladaptif
3.   gali dan tingkatkan mekanisme koping ibu yang efektif
R/. Kecemasan akan dapat teratasi jika mekanisme koping yang dimiliki ibu efektif
4.   Beri support system pada ibu
R/. ibu dapat mempunyai motivasi untuk menghadapi keadaan yang sekarang secara lapang dada asehingga dapat membawa ketenangan hati













DAFTAR PUSTAKA

FKUI. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Tridasa Printer.
Hamilton, Persis Mary. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Sastrawinata, R. Sulaeman. 1981. Obstetri Patologi. Bandung: Elstar Offset.
____.1995. Ilmu Penyakit Kandungan UPF Kandungan Dr.Soetomo. Surabaya


0 komentar:

Go to Top
Copyright © 2015 Waroenk Askep
Distributed By My Blogger Themes | Template Created By