featured Slider

MENGATASI WIFI LIMITED PADA WINDOWS 8

Oke, jadi ceritanya kemarin pas ngerjain tugas jadi molor karena pas mau ngirim file nya ke dosen lewat email malah gak bisa connect wifi. Awalnya saya kira karena masalah kebanyakan yang connect ke wifi nya, soalnya memang lab lagi penuh sama anak yang ngerjain tugas. Namun ternyata tidak. Soalnya ada anak setelah saya yang dateng, dan bisa konek. wkwkwk
Jadi sekarang saya mau share tips supaya wifi kembali normal dan tidak "limited access" lagi. Ini biasanya di Windows 8 / 8.1

Pertama, tekan tombol Windows Key + X + A secara bersamaan.
Hal ini untuk melakukan run cmd as admin.
Lalu masukkan command  netsh int ip reset C:\resetlog.exe 
Done !

Jika masuk error, cara lain adalah
Run kembali cmd as admin ( Windows + x + a )
Masukkan command
netsh int tcp set heuristics disabled 
enter
netsh int tcp set global autotuninglevel=disabled
enter
netsh int tcp set global rss=enabled

Done.
Reconnect wifi nya. Harusnya sekarang sudah normal lagi =))

Sekian tips kali ini semoga bermanfaat.
Share This

Manfaat Buah Bagi kesehatan Mata

Mata merupakan jendela hati. Demikian kata pepatah mengatakan. Memang benar, dari mata kita dapat mewakili semua rasa yang ada. Sorot mata memiliki arti bahkan manusia dapat berkomunikasi hanya melalui tatap mata. Mata juga tak mampu menyembunyikan sebuah kebohongan. Betapa dahsyat fungsi mata selain mampu menunjukkan kepada kita akan indahnya dunia. Namun tahukah Anda apa yang baik untuk mata? Ya, mata perlu sehat dan kita akan membicarakan tentang manfaat buah untuk kesehatan mata.

Buah selain enak dimakan, menyegarkan tubuh sekaligus menyehatakan tubuh, juga memiliki berjuta manfaat lain. Salah satunya adalah untuk meningkatkan kesehatan mata. Bagaimana bisa? Ya, di dalam berbagai jenis buah terkandung suatu komponen zat warna yang disebut sebagai beta karoten. Beta karoten ini dapat mengaktifkan pro vitamin A menjadi vitamin A yang baik untuk kesehatan mata dan meningkatkan daya akomodasi. Beta karoten terdapat di dalam buah-buahan khususnya yang berwarna kuning, jingga atau kemerahan. Sebagai contoh adalah buah mangga, papaya, jeruk, apel, semangka, melon. Kalau buah berwanra merah, kunging, jingga, oranye sudah Nampak jelas mengandung karoten, buah apel berwarna hijau serta pir ternyata juga mengandung beta karoten dalam kadar cukup tinggi.

Selain meningkatkan daya akomodasi, adanya beta karoten di dalam buah mampu mengobati katarak bahkan glaucoma. Khasiat buah untuk kesehatan mata juga diperankan oleh adanya kadar lutein tinggi seperti terdapat pada buah kiwi, pisang, jambu juga dapat mengobati katarak. Kadar vitamin C yang tinggi pada buah juga dapat menguatkan jaringan ikat pada area mata serta memperlancar peredaran darah. Vitamin C juga membantu meningkatkan daya tahan tubuh sehingga membantu tubuh mengurangi terjadinya infeksi pada mata.

Beberapa buah yang mengandung minyak esensial seperti buah zaitun, buah strawberry bagus untuk mata, khususnya dalam proses membersihkan mata serta mengobati mata radang. Juga dapat mengobati katarak. Kandungan folat, kalsium serta kalium di dalam beberapa jenis jeruk, pisang, salak. Betapa besar manfaat buah untuk kesehatan mata.

MANFAAT COKLAT SEBAGAI PELANGSING


Coklaaaat.. Cokelat….! Siapa sih orang yang tidak suka dengan makanan yang satu ini. Rata rata semua orang di dunia ini menyukai makanan bernama cokelat ini, namun hanya ada beberapa orang yang mencoba untuk menghindarinya, yaitu orang yang sering sakit gigi saat memakannya, dan orang yang menganggap bahwa cokelat adalah makanan yang bisa menggemukkan. Padahal, kalau Anda mengetahui kenyataannya, makan cokelat bisa melangsingkan lho! Tidak percaya?? Yuk, mari kita bahas lebih lanjut tentang penjelasan hal ini melalui artikel berikut ini.

Cokelat Memiliki Kandungan Kalori Tinggi

Kalori adalah hal yang harus dibakar setiap hari apabila tidak ingin menumpuk dan menjadi lemak dalam tubuh. Cokelat adalah salah satu makanan yang memiliki kandungan kalori yang tinggi. Orang awam menganggap bahwa semua kalori itu sama, padahal sebetulnya ada banyak jenis kalori yang terdapat di dunia ini, ada kalori yang membuat gemuk, dan ada kalori yang bermanfaat sebagai pendukung energi.
Nyatanya, kalori yang terdapat dalam cokelat adalah jenis kalori yang kedua, yakni yang bermanfaat dan menjadi pendukung energi. Jadi, jangan takut makan cokelat karena anggapan kalorinya yang tinggi, karena kalori pada cokelat sangat berbeda dan cenderung tidak berpengaruh pada berat badan.

Kandungan Cokelat Membuat Kinerja Tubuh Lebih Baik

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tenaga ahli sudah dilakukan sejak dulu, dan hasilnya sepetri yang dikemukakan oleh Daily Mail, kandungan cokelat ternyata membantu kinerja atau metabolisme tubuh agar bisa bekerja secara lebih baik dan maksimal. Hal ini menjadikan semua timbunan lemak, kalori umum, dan lain sebagainya bisa dibakar sehingga tubuh memiliki porsi yang netral dan menyehatkan, sehingga makan cokelat bisa melangsingkan.
Tapi, kenyataannya tidak semua cokelat memiliki manfaat yang baik bagi tubuh, karena banyak sekali merk cokelat yang kita jumpai di pasaran. Oleh karena itu, apabila Anda ingin menyalurkan keinginan Anda untuk makan cokelat. Maka saran terbaik yang bisa ditempuh adalah dengan mengkonsumsi cokelat yang sudah memiliki merk resmi serta berlisensi.
Selain daripada itu, makan cokelat bisa melangsingkan apabila hal itu dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CEDERA KEPALA

1. Pengertian
Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001)

2.Klasifikasi
Klasifikasi trauma kepala berdasarkan Nilai Skala Glasgow (SKG):
a. Minor
• SKG 13 – 15
• Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit.
• Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral, hematoma.
b. Sedang
• SKG 9 – 12
• Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam.
• Dapat mengalami fraktur tengkorak.
c. Berat
• SKG 3 – 8
• Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam.
• Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial.

3.Etiologi
• Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil.
• Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.
• Cedera akibat kekerasan.
4.Patofisiologis
Cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologis dari suatu trauma kepala. Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan benda tumpul, atau karena kena lemparan benda tumpul. Cedera perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan mobil atau tanah. Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara kasar dan cepat. Kekuatan ini bisa dikombinasi dengan pengubahan posisi rotasi pada kepala, yang menyebabkan trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang otak.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BRONCHO PNEUMONIA

A. Pengertian
Bronchopneumoni adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak, Aeratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. (Smeltzer & Suzanne C, 2002 : 572). Bronchopneomonia adalah penyebaran daerah infeksi yang berbercak dengan diameter sekitar 3 sampai 4 cm mengelilingi dan juga melibatkan bronchi. (Sylvia A. Price & Lorraine M.W, 1995 : 710).

Menurut Whaley & Wong, Bronchopneumonia adalah bronkiolus terminal yang tersumbat oleh eksudat, kemudian menjadi bagian yang terkonsolidasi atau membentuk gabungan di dekat lobulus, disebut juga pneumonia lobaris. Bronchopneumonia adalah suatu peradangan paru yang biasanya menyerang di bronkeoli terminal. Bronkeoli terminal tersumbat oleh eksudat mokopurulen yang membentuk bercak-barcak konsolidasi di lobuli yang berdekatan. Penyakit ini sering bersifat sekunder, menyertai infeksi saluran pernafasan atas, demam infeksi yang spesifik dan penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh.(Sudigdiodi dan Imam Supardi, 1998). Kesimpulannya bronchopneumonia adalah jenis infeksi paru yang disebabkan oleh agen infeksius dan terdapat di daerah bronkus dan sekitar alveoli.

B. Etiologi
Secara umun individu yang terserang bronchopneumonia diakibatkan oleh adanya penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Orang yang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan yang terdiri atas : reflek glotis dan batuk, adanya lapisan mukus, gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ, dan sekresi humoral setempat.

Timbulnya bronchopneumonia disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa, mikobakteri, mikoplasma, dan riketsia. (Sandra M. Nettiria, 2001 : 682) antara lain:
1. Bakteri : Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenzae, Klebsiella.
2. Virus : Legionella pneumoniae
3. Jamur : Aspergillus spesies, Candida albicans
4. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru-paru
5. Terjadi karena kongesti paru yang lama.
Sebab lain dari pneumonia adalah akibat flora normal yang terjadi pada pasien yang daya tahannya terganggu, atau terjadi aspirasi flora normal yang terdapat dalam mulut dan karena adanya pneumocystis cranii, Mycoplasma. (Smeltzer & Suzanne C, 2002 : 572 dan Sandra M. Nettina, 2001 : 682).
C. Pathofisiologi
Bronchopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus, Haemophillus influenzae atau karena aspirasi makanan dan minuman. Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman tersebut masukl ke saluran pernafasan bagian bawah dan menyebabkan terjadinya infeksi kuman di tempat tersebut, sebagian lagi masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi saluran pernafasan dengan ganbaran sebagai berikut: Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi pembuluh darah alveoli, peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan alveoli. Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora normal dalam usus, peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi dan kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. (Soeparman, 1991)
D. Manifestasi Klinis
Bronchopneumonia biasanya didahului oleh suatu infeksi di saluran pernafasan bagian atas selama beberapa hari. Pada tahap awal, penderita bronchopneumonia mengalami tanda dan gejala yang khas seperti menggigil, demam, nyeri dada pleuritis, batuk produktif, hidung kemerahan, saat bernafas menggunakan otot aksesorius dan bisa timbul sianosis.(Barbara C. long, 1996 :435). Terdengar adanya krekels di atas paru yang sakit dan terdengar ketika terjadi konsolidasi (pengisian rongga udara oleh eksudat).(Sandra M. Nettina, 2001 : 683).
E. Pemeriksaan Penunjang
Untuk dapat menegakkan diagnosa keperawatan dapat digunakan cara:
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan darah
Pada kasus bronchopneumonia oleh bakteri akan terjadi leukositosis (meningkatnya jumlah neutrofil). (Sandra M. Nettina, 2001 : 684)
b. Pemeriksaan sputum
Bahan pemeriksaan yang terbaik diperoleh dari batuk yang spontan dan dalam. Digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis dan untuk kultur serta tes sensitifitas untuk mendeteksi agen infeksius. (Barbara C, Long, 1996 : 435)
c. Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi dan status asam basa. (Sandra M. Nettina, 2001 : 684)
d. Kultur darah untuk mendeteksi bakteremia
e. Sampel darah, sputum, dan urin untuk tes imunologi untuk mendeteksi antigen mikroba. (Sandra M. Nettina, 2001 : 684)
2. Pemeriksaan Radiologi
a. Rontgenogram Thoraks
Menunjukkan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai pada infeksi pneumokokal atau klebsiella. Infiltrat multiple seringkali dijumpai pada infeksi stafilokokus dan haemofilus. (Barbara C, Long, 1996 : 435)
b. Laringoskopi/ bronkoskopi untuk menentukan apakah jalan nafas tersumbat oleh benda padat. (Sandra M, Nettina, 2001).

F. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum. (Doenges, 1999 : 166)
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa aksigen darah, ganggguan pengiriman oksigen. (Doenges, 1999 : 166).
3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli. Doenges, 1999 :177)
4. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih, penurunan masukan oral. (Doenges, 1999 : 172)
5. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri bau dan rasa sputum, distensi abdomen atau gas.( Doenges, 1999 : 171)
6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas sehari-hari. (Doenges, 1999 : 170)
G. Fokus Intervensi
1). DP : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum
Tujuan :
1. Jalan nafas efektif dengan bunyi nafas bersih dan jelas
2. Pasien dapat melakukan batuk efektif untuk mengeluarkan secret Hasil yang diharapkan :
1. Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/ jelas
2. Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas Misalnya:
batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
Intervensi :
1. Auskultasi bunyi nafas catat adanya bunyi nafas. Misalnya: mengi, krekels
dan ronki. Rasional: Bersihan jalan nafas yang tidak efektif dapat
dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas adventisius
2. Kaji/ pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi/ ekspirasi Rasional:
Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada
penerimaan atau selama stres/ adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat
melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
3. Berikan posisi yang nyaman buat pasien, misalnya posisi semi fowler
Rasional: Posisi semi fowler akan mempermudah pasien untuk bernafas.
4. Dorong/ bantu latihan nafas abdomen atau bibir Rasional: Memberikan pasien
beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dipsnea dan menurunkan
jebakan udara
5. Observasi karakteristik batik, bantu tindakan untuk memoerbaiki keefektifan
upaya batuk. Rasional: Batuk dapat menetap, tetapi tidak efektif. Batuk paling
efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di bawah setelah perkusi dada.
6. Berikan air hangat sesuai toleransi jantung. Rasional: Hidrasi menurunkan
kekentalan sekret dan mempermudah pengeluaran.

2.) DP : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen.
Tujuan : Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang
normal dan tidak ada distres pernafasan.
Hasil yang diharapkan :
1. Menunjukkan adanya perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan
2. Berpartisispasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi
Intervensi :
1. kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan pernafasan Rasional :Manifestasi
distres pernafasan tergantung pada derajat keterlibatan paru dan status
kesehatan umum
2. Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat adanya sianosis
Rasional :Sianosis menunjukkan vasokontriksi atau respon tubuh terhadap
demam/ menggigil dan terjadi hipoksemia.
3. Kaji status mental Rasional :Gelisah, mudah terangsang, bingung dapat
menunjukkan hipoksemia.
4. Awsi frekuensi jantung/ irama Rasional :Takikardi biasanya ada karena akibat
adanya demam/ dehidrasi.
5. Awasi suhu tubuh. Bantu tindakan kenyamanan untuk mengurangi demam
dan menggigil Rasional :Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan
metabolik dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi seluler.
6. Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam, dan batuk
efektif Rasional :Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal,
meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiaki ventilasi.
7. Kolaborasi pemberian oksigen dengan benar sesuai dengan indikasi Rasional
:Mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg.

3). DP: Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli
Tujuan:Pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal
dan paru jelas/ bersih
Intervensi :
1. Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Rasional :Kecepatan
biasanya meningkat, dispnea, dan terjadi peningkatan kerja nafas, kedalaman
bervariasi, ekspansi dada terbatas.
2. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas adventisius. Rasional
:Bunyi nafas menurun/ tidak ada bila jalan nafas terdapat obstruksi kecil.
3. Tinggikan kepala dan bentu mengubah posisi. Rasional :Duduk tinggi
memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.
4. Observasi pola batuk dan karakter sekret. Rasional :Batuk biasanya
mengeluarkan sputum dan mengindikasikan adanya kelainan.
5. Bantu pasien untuk nafas dalam dan latihan batuk efektif. Rasional :Dapat
meningkatkan pengeluaran sputum.
6. Kolaborasi pemberian oksigen tambahan. Rasional :Memaksimalkan bernafas
dan menurunkan kerja nafas.
7. Berikan humidifikasi tambahan Rasional :Memberikan kelembaban pada
membran mukosa dan membantu pengenceran sekret untuk memudahkan
pembersihan.
8. Bantu fisioterapi dada, postural drainage Rasional :Memudahkan upaya
pernafasan dan meningkatkan drainage sekret dari segmen paru ke dalam
bronkus.

4). Dp : Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilngan cairan berlebih, penurunan masukan oral.
Tujuan : Menunjukkan keseimbangan cairan dan elektrolit
Intervensi :
1. Kaji perubahan tanda vital, contoh :peningkatan suhu, takikardi,, hipotensi.
Rasional :Untuk menunjukkan adnya kekurangan cairan sisitemik
2. Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa (bibir, lidah). Rasional
:Indikator langsung keadekuatan masukan cairan
3. Catat lapporan mual/ muntah. Rasional :Adanya gejala ini menurunkan
masukan oral
4. Pantau masukan dan haluaran urine. Rasional :Memberikan informasi tentang
keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian
5. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.Rasional :Memperbaiki ststus
kesehatan

5). DP : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan
kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia,
distensi abdomen.
Tujuan :
1. Menunjukkan peningkatan nafsu makan
2. Mempertahankan/ meningkatkan berat badan
Intervensi :
1. Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/ muntah. Rasional :Pilihan
intervensi tergantung pada penyebab masalah
2. Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin, bantu
kebersihan mulut. Rasional :Menghilangkan bahaya, rasa, bau,dari lingkungan
pasien dan dapat menurunkan mual
3. Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan. Rasional
:Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini
4. Auskultasi bunyi usus, observasi/ palpasi distensi abdomen. Rasional :Bunyi
usus mungkin menurun bila proses infeksi berat, distensi abdomen terjadi
sebagai akibat menelan udara dan menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada
saluran gastro intestinal


5. Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering atau makanan
yang menarik untuk pasien. Rasional :Tindakan ini dapat meningkatkan
masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali
6. Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar. Rasional :Adanya
kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap
infeksi, atau lambatnya responterhadap terapi
DP : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas
hidup sehari-hari.
Tujuan : Peningkatan toleransi terhadap aktifitas.
Intervensi :
1. Evakuasi respon pasien terhadap aktivitas. Rasional :Menetapkan
kemampuan/ kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi
2. Berikan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung selama fase akut.
Rasional :Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan
istirahat
3. Jelaskan pentingnya istitahat dalam rencana pengobatan dan perlunya
keseimbamgan aktivitas dan istirahat. Rasional :Tirah baring dipertahankan
untuk menurunkan kebutuhan metabolik
4. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Rasional :Meminimalkan
kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
Daftar Pustaka
Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan :Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :EGC
Nettina, Sandra M. (1996). Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta :EGC
Long, B. C.(1996). Perawatan Madikal Bedah. Jilid 2. Bandung :Yayasan Ikatan
Alumni Pendidikan Keperawatan
Soeparma, Sarwono Waspadji. (1991). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta
:Balai Penerbit FKUI
Sylvia A. Price, Lorraine Mc Carty Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Jakarta :EGC


Konsultasi Via Email
Defa Arisandi : defa_arisandi@yahoo.com
Fahru Rizal : wahyu_cerianet@yahoo.com
Fadlie Ismail : bangfad@yahoo.com
Khasiat Tanaman Disekitar Kita http://www.apotik-online.blogspot.com
Kumpulan Asuhan Keperawatan http://www.stikep.blogspot.com
Jenis Penyakit dan Penanganannya http://www.info-medis.blogspot.com
Khasanah Sejarah Khatulistiwa http://www.pontianak.web.id
Website dengan Harga Murah http://design.pontianak.web.id
Kumpulan Sastra Nusantara http://www.bangfad.com
Hanya Sebatas Coretan http://www.fadlie.web.id
Budidaya Tanaman http://www.cerianet-agricultur.blogspot.com
Kehidupan Kaum Adam http://warkop.wordpress.com
Kehidupan Kaum Hawa http://fadlie.blogdetik.com
Silakan Menyalin atau Mengcopy Isi dalam Situs Diatas untuk keperluan pendidikan dengan
Mencantumkan Sumbernya, Copyright hanya milik ALLAH SWT.

ASUHAN KEPERAWATAN BENIGNE PROSTAT HYPERPLASIA



A. Pengertian
Benigne Prostat Hyperplasia adalah pembesaran jinak kelenjar prostat,disebabkan oleh karena hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab/UPF Ilmu Bedah RSUD Dr Soetomo, 1994 : 193).

B. Etiologi/Penyebabnya
Penyebab yang pasti dari terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia yaitu testis dan usia lanjut. Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya Benigne Prostat Hyperplasia antara lain :
1. Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT)
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen akan menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostatmengalami hiperplasia.
2. Ketidak seimbangan estrogen – testoteron
Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi peningkatan hormon Estrogen dan penurunan testosteron sedangkan estradiol tetap. yang dapat menyebabkan terjadinya hyperplasia stroma.
3. Interaksi stroma - epitel
Peningkatan epidermal gorwth faktor atau fibroblas gorwth faktor dan penurunan transforming gorwth faktor beta menyebabkan hiperplasia stroma dan epitel.
4. Penurunan sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan  epitel dari kelenjar prostat.
5. Teori stem cell Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit. (Roger Kirby, 1994 : 38).

C. Anatomi Dan Fisiologi
Prostat Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi / mengitari uretra posterior dan disebelah proximalnya berhubungan dengan bulibuli, sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini menempel pada diafragma urogenital yang sering disebut sebagai otot dasar panggul. Kelenjar ini pada lakilaki dewasa kurang lebih sebesar buah kemiri atau jeruk nipis. Ukuran,
panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar 3 - 4 cm, dan tebalnya kurang lebih 2 - 3 cm. Beratnya sekitar 20 gram. Prostat terdiri dari : · Jaringan Kelenjar ® 50 - 70 % Jaringan Stroma (penyangga) · Kapsul/Musculer Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang banyak mengandung enzym yang berfungsi untuk pengenceran sperma setelah mengalami koagulasi (penggumpalan) di dalam testis yang membawa sel-sel sperma. Pada waktu orgasme otot-otot di sekitar prostat akan bekerja memeras cairan prostat keluar melalui uretra. Sel – sel sperma yang dibuat di dalam testis akan ikut keluar melalui uretra. Jumlah cairan yang dihasilkan meliputi 10 – 30 % dari ejakulasi. Kelainan pada prostat yang dapat mengganggu proses reproduksi adalah keradangan (prostatitis). 
Kelainan yang lain sepeti pertumbuhan yang abnormal (tumor) baik jinak maupun ganas, tidak memegang peranan penting pada proses reproduksi tetapi lebih berperanan pada terjadinya gangguan aliran kencing. Kelainanyang disebut belakangan ini manifestasinya biasanya pada laki-laki usia lanjut.

D. Patofisiologi
Sejalan dengan pertambahan umur, kelenjar prostat akan mengalami hiperplasia, jika prostat membesar akan meluas ke atas (bladder), di dalam mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra prostatika, maka otot detrusor dan buli-buli berkontraksi lebih kuat untuk dapat memompa urine keluar. Kontraksi yang terus-menerus menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa : Hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sekula dan difertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan klien sebagai keluhan pada saluran kencing bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptom/LUTS (Basuki, 2000 : 76). 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ATRESIA ANI



 A. Definisi

Istilah atresia berasal dari bahasa Yunani yaitu “a” yang berarti tidak ada dan trepsis yang berarti makanan atau nutrisi. Dalam istilah kedokteran, atresia adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal. Atresia ani adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar (Walley,1996).
Ada juga yang menyebutkan bahwa atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi,2001).
Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan. Jadi menurut kesimpulan penulis, atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan. Walaupun kelainan lubang anus akan mudah terbukti saat lahir, tetapi kelainan bisa terlewatkan bila tidak ada pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum.

B. Etiologi
Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi, dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaananus umumnya tidak ada kelainan rectum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namun demikian pada agenesis anus, sfingter internal mungkin tidak memadai. Menurut peneletian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua yang mempunyai gen carrier penyakit ini mempunyai peluang sekitar 25% untuk diturunkan pada anaknya saat kehamilan. 30% anak yang mempunyai sindrom genetic, kelainan kromosom atau kelainan congenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani. Sedangkan kelainan bawaan rectum terjadi karena gangguan pemisahan kloaka menjadi rectum dan sinus urogenital sehingga biasanya disertai dengan gangguan perkembangan septum urorektal yang memisahkannya.

C. Faktor predisposisi
Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat lahir seperti :
1. Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral, anal, jantung, trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar limfe).
2. Kelainan sistem pencernaan.
3. Kelainan sistem pekemihan.
4. Kelainan tulang belakang.

Go to Top
Copyright © 2015 Waroenk Askep
Distributed By My Blogger Themes | Template Created By